running text



web stats

Rabu, 10 Juli 2013

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

(Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran)
Oleh
Edi Supriyanto


A.     Pendahuluan
Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Banyak model kepemimpinan yang dapat dianut dan diterapkan dalam bebagai organisasi/institusi, baik profit maupun non profit, namun model kepemimpinan yang dipandang cocok untuk diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership or leadership for improved learning). Sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan kepala sekolah memfokuskan kepemimpinannya untuk menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.
Kepemimpinan pembelajaran sangat cocok diterapkan di sekolah karena misi utama sekolah adalah mendidik semua siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sukses dalam menghadapi masa depan yang belum diketahui dan yang sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Misi inilah yang kemudian menuntut sekolah sebagai organisasi harus memfokuskan pada pembelajaran (learning-focused schools), yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar (asesmen).
B.   Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas materi tentang (1) arti dan pentingnya kepemimpinan pembelajaran; (2) Faktor-faktor yang efektif berpengaruh terhadap organisasi pembelajar; (3) Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran; (4)  Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar (5) Kompetensi Pemimpin Pembelajaran. (6) Standar Kepemimpinan Pembelajaran
C.   Pembahasan
1.    Arti dan Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran
a.    Arti Kepemimpinan Pembelajaran
Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran, tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. Misalnya, Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Definisi ini kurang komprehensif, karena hanya memfokuskan pada guru. Ahli lain, Petterson (1993), mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1)    Kepala sekolah merumuskan, mensosialisasikan, dan menamkan isi dan makna visi sekolah melalui berbagi pendapat atau urun rembug dengan warga sekolah serta mengupayakan agar visi dan misi sekolah tersebut hidup subur dalam implementasinya;
2)    Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif).  
3)    Kepala sekolah memberikan dukungan  terhadap pembelajaran.
4)    Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar untuk memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah.
5)    Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. Organisasi harus belajar bagaimana beradaptasi dengan perubahan untuk memenuhi tuntutan perubahan untuk tanggung jawab sosial. Senge menunjukkan bahwa organisasi perlu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Organisasi pembelajaran akan puas dengan status quo. Ini akan dilanjutkan oleh mencari cara untuk memperbaiki diri, menyiapkan kriteria untuk menilai efek dari perubahan, menciptakan alternatif, mengadopsi dan menerapkan mereka yang bekerja dengan baik dan meninggalkan orang-orang yang tidak bekerja dengan baik.
Sebuah organisasi pengembangan kepemimpinan dapat meningkatkan pengembangan karyawan. Menurut Peter Senge, organisasi belajar adalah organisasi di mana para anggotanya secara terus menerus memperluas kemampuan mereka untuk mendapatkan hasil yang sesungguhnya mereka harapkan, sebagai tempat dikembangkannya pola-pola berpikir baru dan meluas, tempat untuk mencurahkan aspirasi kelompok secara bebas, dan tempat di mana para anggotanya belajar secara berkelanjutan melihat bersama-sama secara keseluruhan. Pengertian organisasi belajar menurut Senge tersebut menempatkan organisasi sebagai suatu wadah terjadinya proses belajar yang berkelanjutan. Memandang organisasi bukan hanya sekadar entitas mati. Organisasi seperti organisme yang hidup dan berkembang. Ia bisa belajar dan tumbuh layaknya mahluk hidup. Kelima disiplin organisasi pembelajaran dibahas dalam buku Peter Senge adalah: (1) Membangun visi bersama, (2) Model mental, (3) Tim pembelajaran, (4) penguasaan pribadi, dan (5) Sistem berpikir[1].
Belajar memiliki dua tingkatan: organisasi itu sendiri dan karyawan. Karyawan perlu belajar dari pengalaman dan menggabungkan pembelajaran sebagai umpan balik dalam tugas pekerjaan mereka. Organisasi perlu mengadopsi konsep pembelajaran organisasi untuk belajar terus menerus dan untuk bertahan hidup. Dengan menerapkan ide-ide ini, organisasi yang lebih baik dapat tumbuh modal manusia mereka, dan meningkatkan margin keuntungan mereka. Sebuah organisasi belajar dipandang sebagai salah satu yang memiliki kapasitas untuk mengintegrasikan orang dan struktur untuk memindahkan organisasi ke arah pembelajaran yang berkelanjutan dan perubahan. Konsep organisasi pembelajaran adalah bahwa sukses organisasi harus terus beradaptasi dan belajar untuk merespon perubahan lingkungan dan untuk tumbuh.
Melengkapi definisi-definisi tersebut di atas, berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.  
b.    Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran
Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).
Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa), mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.
Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama, antara lain mencakup educator, manager, administrator, supervisor, motivator, enterpreneur, dan leader. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagai instructional leader, kurang memperoleh porsi yang selayaknya. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkan perhatian.

2.    Faktor-faktor yang efektif berpengaruh terhadap organisasi pembelajaran
Menurut Marquardt (2002) ada beberapa faktor kekuatan yang  mempengaruhi perubahan organisasi pembelajaran, yaitu: (1) globalisasi dan ekonomi gelobal, (2) Teknologi, (3) transformasi radical dalam dunia kerja, (4) pengaruh peningkatan pengguna, (5) Munculnya pengetahuan dan pembelajaran sebagai aset utama organisasi, (6) mengubah peran dan harapan pekerja, (7) keragaman tempat kerja dan mobilitas, dan (8) meningkat cepat perubahan dan kekacauan[2].
a. Struktur: Marquardt (2002) mengatakan bahwa belajar akan mencegah aliran waktu cepat dan pengetahuan yang berbasis persaingan. Perubahan lingkungan dan struktur organik merupakan variabel yang berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas organisasi.
b. Lingkungan: variabel lingkungan saat ini tidak akan memungkinkan organisasi untuk dikelola secara tradisional terhadap dampak keterampilan pesaing, kemampuan dan teknologi. Marquardt (2002) percaya bahwa persaingan dunia organisasi yang menyesuaikan dengan perubahan lingkungan sekitar dan akses ke keunggulan kompetitif, memiliki kesempatan untuk menjadi tahan lama.
c. Teknologi: Sistem informasi dapat mempengaruhi organisasi pembelajaran. Teknologi tidak hanya melanjutkan untuk menghasilkan arus informasi baru, tetapi juga bergeser pada pusat gravitasi kepala sekolah (Morquardt, 2002).
d. Budaya organisasi: Budaya organisasi mendefinisikan identitas pembelajaran dan metode yang realisasi. Schein (1994) berpendapat bahwa belajar dalam budaya birokrasi berada di posisi minimum. Belajar budaya organisasi yang memfasilitasi dan mendorong pembelajaran organisasi menumbuhkan peningkatkan pembelajaran organisasi.
e. Strategi: Dalam Marquardt, s (2002) ide, dengan asumsi mindful kebijakan dan strategi, pembelajaran akan menjadi sadar. Hal ini harus dinyatakan dalam strategi dan visi organisasi dan strategi yang berkaitan dengan pembelajaran.
f. Kepemimpinan: Keyakinan, ide, pendapat dan perilaku pemimpin adalah penanda budaya belajar yang harus dilakukan dalam lingkungan sekolah. Senge (2002), menyebutkan bahwa seorang pemimpin memfasilitasi dan mendorong suasana untuk kebebasan bertindak. Morgan (1997) mengatakan bahwa, dengan mendorong diskusi kelompok, pemimpin harus menemukan beberapa titik pandang setiap pertanyaan dan dengan mencari jawaban yang kreatif menunjukkan generator belajar keterampilan untuk staf.
Kepemimpinan dalam organisasi harus berubah dengan perkembangan dan pematangan organisasi. Awal, dalam menciptakan organisasi, para pemimpin sendiri harus melayani lebih sebagai animator. Untuk menjaga organisasi mereka perlu menjadi lebih Sustainers budaya organisasi, dan yang diperlukan mereka harus menjadi Agen Perubahan.

3.  Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran
        Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut:
a.    Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan:
1).  mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan,
2). menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan  dari pada sebagai penguasa/bos, dan
3). mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak, dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku.
b.    Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel:
1).  membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa,
2)    mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan,
3)    menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa,
4)    membantu siswa agar sukses dalam belajarnya, dan
5)    menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan, berpikir dan berperilaku positif untuk maju.
c.    Mengerjakan sesuatu dengan professional:
1).  selalu membaca diri dan melakukan refleksi,
2)    mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri, membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki,
3)    merangkul perubahan sebagai teman, dia akan membuat anda tetap aktif, mawas diri dan berkembang,
4)    menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah,
5)    selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran
6)    menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas,
7)    mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan,
8)    menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian, dan
9)    memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran.
d.    Selalu mempertahankan:
1). menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah,
2)    menjadi pendukung yang jelas,
3)    memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar, dan
4)    gembira dalam bekerja.
       
Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. Indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut:
a.   lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah
b.   rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah
c.   yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah
d.   gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut
Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathorn (1993), ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. Lima hal penting yang dimaksud meliputi:
a.    sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar,
b.    ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan,
c.    peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah,
d.    seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah, guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya, dan
e.    pembelajaran merupakan prioritas utama.
        Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah, perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi:
a.    mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap  pencapaian hasil belajar siswa,
b.    mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu, dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah,
c.    mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah,
d.    menilai moral dan komitmen warga sekolah, dan
e.    membangun lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan disiplin.

4. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar
        Pada tahun 1995, melalui penelitiannya, laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton, 1995). Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah, yang meliputi hal-hal berikut:
a.    meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal,
b.    menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah, termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis,
c.    memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung, dalam ungkapan yang konkrit, membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir, sikap, dan tindakan warga sekolah,
d.    mencari, merekrut, dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya,
e.    mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik,
f.     menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain,
g.    mengetahui tentang penelitian pendidikan, menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah, urun rembuk, dan menerapkannya dalam pemecahan masalah,
h.    mencari program-program yang inovatif, amati, dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut,
i.      tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjuk-petunjuk yang diberikan, cek secara berkala kesesuaian, kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian, tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan, dan monitor pelaksanaan kurikulum,
j.      cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada, dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa,
k.    milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru, lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran, fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran, dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru, dan
l.      komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana, strategi peningkatan yang sistematis, prioritas kegiatan yang jelas, dan pendekatan-pendekatan baru, harus dilaksanakan dengan baik.

5.    Standar Kepemimpinan Pembelajaran
        Mengingat pentingnya peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar, perlu diidentifikasi kriteria atau standar kepemimpinan pembelajaran berdasarkan hasil-hasil penelitian maupun hasil-hasil kesepakatan para akademisi dan para praktisi kepemimpinan pembelajaran.
Berikut disampaikan standar kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, yaitu angtara lain:
Standar A: Peningkatan secara berkelanjutan
Melaksanakan pendekatan yang sistematik dan koheren untuk menuju peningkatan secara berkelanjutan dalam prestasi akademik seluruh siswa.
Standar B: Kultur Pembelajaran
Menciptakan kultur pembelajaran yang progresif/kondusif di sekolahnya agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan setinggi-tingginya.
Standar C: Kepemimpinan Pembelajaran dan Penilaian Hasil Belajar
Memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya berdasarkan hasil evaluasi dan dilakukan secara terus menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.
Standar D: Pengembangan Profesionalisme Guru secara Terus Menerus
Melakukan pengembangan profesionalisme warga sekolahnya terutama guru yang dilakukan secara terus-menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.
Standar E: Manajemen Sekolah
Memfasilitasi warga sekolah (guru, siswa, karyawan) agar menjadi pebelajar yang baik dan mengembangkan pembelajaran yang efektif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang tersedia dan yang perlu disediakan jika belum ada.
Standar F: Etika
Memfasilitasi peningkatan secara berkelanjutan dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan standar etika paling tinggi dan mendorong pendampingan berupa tindakan politis apabila diperlukan.
Standar G: Perbedaan
Memfasilitasi toleransi terhadap perbedaan latar belakang siswa, baik dari suku, agama, ras, jenis kelamin, dan asal usul.

6.    Kompetensi Pemimpin Pembelajaran
Jika sekolah dianggap sebagai sistem, maka kepemimpinan sekolah merupakan salah satu komponennya dan kepemimpinan pembelajaran merupakan salah satu sub komponen kepemimpinan sekolah. Meskipun kepemimpinan pembelajaran merupakan salah satu sub komponen kepemimpinan sekolah, namun kepemimpinan pembelajaran memiliki tingkat kepentingan tertinggi, sedang sub-sub kepemimpinan lainnya memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dan bahkan dua, tiga, dan empat tingkat lebih rendah dari pada kepemimpinan pembelajaran. Mengapa demikian? Jawabannya jelas, karena kegiatan utama di sekolah adalah pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lainnya hanya sebagai pendukung. Untuk itu diperlukan kepala sekolah yang benar-benar memiliki kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran.
Kompetensi adalah kemampuan melakukan sesuatu yang dimensi-dimensinya meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut.
1.    Merumuskan dan mengartikulasikan tujuan pembelajaran
2.    Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum
3.    Membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar (PBM)
4.    Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya
5.    Membangun komunitas pembelajaran
6.    Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional
7.    Melayani siswa dengan prima
8.    Melakukan perbaikan secara terus menerus
9.    Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif
10. Membangun Warga Sekolah agar Pro-perubahan
11. Membangun teamwork yang kompak
12. Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah  

Secara umum, cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah dapat dipilahkan menjadi 11 butir sebagai berikut.
1.    Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
2.    Melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
3.    Memfasilitasi pembentukan  kelompok kerja guru
4.    Menerapkan ekspektasi yang tinggi
5.    Melakukan evaluasi kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya
6.    Membentuk kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran
7.    Membangun learning person dan learning school
8.    Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya
9.    Melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orang tua siswa
10. Melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa
11. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran akibat penerapan kepemimpinan pembelajaran.

Organisasi yang siap, mampu, dan mau berubah lebih tranformational daripada transaksional dalam hal paradigma baru kepemimpinan. Kegunaan transformasional kepemimpinan untuk meningkatkan kepuasan organisasi, komitmen, dan efektivitas, serta peningkatan pemahaman tentang dinamika transformasional kepemimpinan. Pemimpin transformasional meningkatkan kesadaran konstituen mereka tentang apa yang penting, meningkatkan kekhawatiran untuk berprestasi, aktualisasi diri dan cita-cita. Pemimpin Transaksional melayani kepentingan diri konstituen mereka dengan cara penguatan kontingen, positif dalam kasus penghargaan konstruktif, pujian dan janji untuk sukses konstituen dalam memenuhi komitmen kepada pemimpin dan/atau organisasi[3].
Tiga faktor kepemimpinan transformasional adalah: 1) karismatik dan kepemimpinan inspiratif (Pemimpin membayangkan masa depan yang dihargai, diartikulasikan bagaimana untuk mencapai hal itu, menetapkan standar yang tinggi, dan menetapkan dirinya sebagai contoh yang diidentifikasi dengan pengikut dan ingin meniru), (2) stimulasi intelektual (pemimpin mendorong pengikutnya untuk mempertanyakan asumsi dan melihat masalah lama dengan cara baru yang memungkinkan para pengikut menjadi lebih inovatif dan kreatif), dan (3) pertimbangan individual (pemimpin diperlakukan masing-masing pengikutnya secara individu dengan kebutuhan yang berbeda untuk dukungan dan pengembangan).


D.   Kesimpulan
Kepala sekolah yang efektif harus melaksanakan sejumlah standar yang telah disampaikan sebelumnya. Selain itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus juga mampu membangun kebersamaan warga sekolahnya dan meyakinkan mereka bahwa kebersamaan inilah yang akan membawa keberhasilan sekolah, yaitu mencapai hasil belajar yang diharapkan. Kepala  sekolah yang efektif juga mampu meyakinkan warga sekolahnya bahwa program-program, kegiatan-kegiatan, aturan main, dsb. yang difokuskan pada siswa dan pembelajaran akan mampu mengangkat hasil belajar siswa, baik akademik maupun non akademik.




Bernard M. Bass. 2000. The Future of Leadership in Learning Organizations. Journal of Leadership & Organizational Studies 2000; 7; 18
Daresh, John C.,Playko, Marshal A. 1995. Supervision as a Proactive Process, Waveland press.

Deal, T.E. and Peterson, K.D. 1998. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco, CA. Jossey Bass Publishers.

F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet.doc vlb 3/21/07

Fink, Elaine and B. Resnicl, Lauren (2003). Developing Principals as Instructional Leaders.

Guston, Sandra Lee. 2002. The Instructional Leadership toolbox: A  Handbook for Improving Practice. California: Sage Publication.

Glatthorn, A.A.1993. OBE Reform and the Curriculum Process. Journal of Curriculum and Supervision, 8, 4, pp. 354-363


Hoyle, J.R., English, F.W., & Steffy, B.E. 199. Skills for Successful Leaders (2nd Edition). Arlington, VA. American association of School Administrators.

 

Marquardt , Michael J. 2002. Building the Learning Organization Mastering the 5 Elements for Corporate learning. Davies-Black Publishing, Inc. Palo Alto, CA

 

Senge Peter . 2000. A Fifth Discipline Resource  Schools That Learn: A Fifth Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About Educatio. New York: Doubleday, h. 5-11.




[1] Senge Peter . 2000. A Fifth Discipline Resource  Schools That Learn: A Fifth Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About Educatio. New York: Doubleday, h. 5-11.

[2] Marquardt , Michael J. 2002. Building the Learning Organization Mastering the 5 Elements for Corporate learning. Davies-Black Publishing, Inc. Palo Alto, CA

[3] Bernard M. Bass. 2000. The Future of Leadership in Learning Organizations. Journal of Leadership & Organizational Studies 2000; 7; 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar